3D Nivea Goes to Phuket

ni

Tour bertajuk 3D Nivea Goes to Phuket ini merupakan hadiah kontes yang diselenggarakan Nivea di facebook. Kontes ini hanya boleh diikuti oleh wanita dan berlangsung selama 2 bulan. Puji Syukur akhirnya aku bisa terpilih sebagai salah satu pemenang dan berkesempatan jalan-jalan ke Phuket, Thailand.

ni1

Tour ini dihandle oleh TX Travel dengan Mr Anton yang super baik dan ramah sebagai tour leadernya. Waktu keberangkatan adalah tanggal 18 Mei 2014 kemarin.  Delapan peserta berasal dari Surabaya dan Bandung, dan hanya dua peserta yang berasal dari Jakarta. Dan seperti sudah tercantum di T & C,  pihak penyelenggara tidak menanggung ongkos pemenang yang berasal dari luar Jakarta. Jadi artinya ke-8 pemenang tadi harus membiayai sendiri perjalanannya menuju Jakarta (Thanks God I live in Jakarta :D )

Semua peserta tour sudah harus berkumpul di bandara pukul 13.00 WIB. Di antara peserta tour ini, ada dua peserta yang sudah pernah ketemu denganku karna sama-sama menang kontes saat ke Korea beberapa waktu lalu. Ada juga peserta yang sudah lama kukenal di facebook karna sama-sama kuter. Jadinya saat bertemu sudah langsung akrab dan heboh :D

Sebelum berangkat tour leader membagi-bagikan tas travel , goodie bag berisi produk Nivea dan juga uang saku sebanyak 2600 BHT (1 juta rupiah). Asyikkk, soalnya sebelum-sebelumnya gak ada disebut tuh bakal dapat uang saku :D Karna dari rumah gak sempat makan, aku makan dulu di Bakmi GM di bandara ditemani teman-teman lain yang sudah lebih dulu makan.

ni2

Jam 16.00 WIB pesawat Air Asia pun terbang membawa kami menuju Phuket. Baru 15 menit di pesawat langsung dah ngorok. Hahaha. Jam 18.50 tiba di Phuket. Meski tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dengan Phuket, tapi langit masih cukup terang untuk ukuran jam 7 malam di Indonesia.

Di bandara kami sudah ditunggu local guide yang akan menemani kami selama di Phuket. Kami pun langsung di bawa ke sebuah rumah makan seafood untuk makan malam. Ada banyak hidangan seperti kepiting, kerang, cumi, ikan, udang, dan lain lain. Cuma aku tak begitu menikmati karna tak suka kepiting, tak doyan kerang, dan tak demen cumi. Hi hi hi.

Usai makan malam, kami langsung dibawa menuju hotel tempat kami menginap. Adapun hotel yang kami tempati adalah Hotel Ibis Phuket Patong berbintang 3. Yahh,  sama kayak hotel Ibis yang di Indonesialah. Satu kamar ditempati dua orang dan aku sekamar dengan peserta yang bernama Welling. Cici yang ramah, cantik, dan baik hati :D.  Setiba di hotel yang pertama dilakukan adalah ganti kartu handphone. Hahahah. Life is so empty without internet, bro :D .  Udah ganti kartu langsung pergi ke 7 Eleven dekat hotel untuk isi pulsa. Setelah pulsa terisi langsung beli paket intenetan 48 BHT per hari. Setelah done, coba internetan ternyata tak bisa juga. Kampretttt.  Untungnya wifi di hotel lumayan lancar sehingga bisa internetan kalau lagi di kamar.

nivea36

nivea37

Keesokan  paginya dibangunkan morning call persis pukul 5 pagi. Mandi dan  beres-beres sampai pukul 6. Lalu sarapan di hotel. Menu sarapan tidak beda dengan menu sarapan di hotel di Indonesia.  Pukul 8 pagi siap-siap berangkat menuju  Phi Phi Island.  Dari pelabuhan dibutuhkan sekitar satu setengah jam naik kapal menuju Phi Phi Island.  Setibanya di sana, kami berfoto-foto dulu di Maya Bay. Maya Bay ini  sebuah pantai yang tenang dan terlindung sehingga menyerupai Hidden Beach yang juga pernah menjadi tempat shooting film ‘The Beach’ yang dibintangi oleh Leonardo De Caprio.   Kami juga menikmati indahnya Pileh Cove, yakni teluk kecil yang diapit dua pulau kecil dan ditumbuhi ganggang atau rumput laut yang menyebabkan perbedaan warna air laut jika dilihat dari atas. Ada juga Viking Cave, sebuah gua yang di dalamnya dihuni oleh beberapa warga Phuket pengumpul sarang burung wallet. Di Loh Samah Bay, sebenarnya aku ingin sekali snorkeling. Tapi karna teman-teman banyak yang tidak berminat, akhirnya akupun harus cukup puas hanya dengan melihat-lihat wisatawan lain aja yang snorkeling

nivea30nivea31

nivea33nivea34

nivea35

nivea26

nivea25

nivea24

nivea19nivea17

nivea14

nivea12

nivea10

nivea9nivea11

Sekitar pukul 2 siang kami pulang menggunakan kapal yang sama. Di sini aku sempat mengalami mual, pusing, dan sesak nafas. Tidak tahu kenapa. Untungnya tour leader kami menyiapkan antimo. Aku minum satu dan langsung merebahkan tubuh di kursi sampai tertidur. Sekitar jam 4 sore kami diajak makan ketan durian. Tadinya sih semangat sekali, berharap akan bertemu dengan durian utuh. Eh ternyata bukan. Ketannya amat manis dan duriannya sudah dicampur air. Makan dikit langsung enek.

NIVEA7

Dari sini kami dibawa ke pusat penjualan oleh-oleh dan cendramata. Aku cuma beli beberapa kaos dan barang-barang cendramata lainnya. Gak begitu istimewa sih. Setelah hampir sejam di sini, kami diantar dulu ke hotel untuk menyimpan barang dan dibawa lagi ke The Royal Paradise Hotel untuk makan malam. Makan malam di hotel ini cukup mewah. Segala macam makanan, mulai dari nasi, daging, sop, ikan, salad, buah, es krim, cake, coklat, es buah, tersedia dan semua bisa kita ambil sesuka hati. Sayang tidak bawa tupperware dari Indonesia. Hahaha.

NIVEA6

Setelah kenyang sampai susah berdiri :D, kami diantar menuju mall. Di sana kami ditinggal dan bebas mau kemana. Aku bersama tiga teman keliling-keliling mall dulu sebelum beli oleh-oleh di lantai bawah. Tak lupa nyasar ke supermarket untuk beli mie instan dan makanan ringan lainnya. Bukannya hobi makan mie instan sih, cuma penasaran aja gimana rasanya. Eh ternyata setelah coba makan sesampai di Indonesia, aihh ada satu  mie instan yang enaknya pake banget di lidahku. Mie instan terenak yang pernah kumakan. Sumpehh. Sayang aku belinya cuma sedikit.

NIVEA5

NIVEA4

NIVEA8

Jam 10 malam kami berkumpul dan diajakin tour leader untuk lihat-lihat tempat hiburan khusus dewasa yakni Bangla Walking Street (ini di luar jadwal tour ya).  Cuma lewat aja sih. Dari jalan bisa juga kita lihat dengan jelas penari-penari striptis dan di jalanan juga bertebaran cewek-cewek seksi KW yang bisa diajak berfoto akrab sampai vulgar. Aihh, gak tau apa aku yang kampungan atau gimana ya, yang jelas hati kecilku tak suka. Pengen cepat-cepat pulang dan kepalaku juga terasa pusing saking hingar bingarnya musik. Jam 11 pulang, mandi dan langsung zzzzzz.

NIVEA3

NIVEA2

Keesokan harinya kami bisa bangun pagi agak telat, yakni sekitar jam 8 pagi. Usai mandi, lalu sarapan. Setelah sarapan, ada yang pergi jalan ada yang berenang dan aku memutuskan duduk aja dekat kolam renang karna disitu sinyalnya bagus. Hahaha.  Jam 11 naik ke kamar untuk packing dan jam 12 turun ke bawah bersama barang-barang yang tadinya cuma satu koper kini sudah ditemani satu tas penuh. Hahaha.  Jam 1 kami diantar menuju Orientala Spa yang letaknya tak begitu jauh dari hotel. Di tempat ini kami mendapat treatment Thay Spa selama 2 jam penuh. Enak dan bikin badan segar sehingga  pegalpun hilang.  Sekitar jam 4 baru selesai dan langsung menuju bandara. Di tengah perjalanan singgah dulu di  tempat penjualan oleh-oleh. Aihh ternyata di sini lebih banyak pilihan oleh-olehnya. Yang berbahan baku durian semuanya ada. Mulai dari dodol, permen, kerupuk, kopi, susu, semuanya ada. Terpaksa borong deh sampai satu kardus. Untung packingnya free.

nivea1

Setelah itu ngebut ke bandara karna waktu sudah mepet. Karna semua belum pada makan siang, maka sebelum boarding kami cari makan dulu di Burger King. Tak pakai lama, langsung lari-lari menuju gate keberangkatan dan oh my God, pesawat kami sudah mau lepas landas dan nama kami sudah dipanggil berulang-ulang melalui pengeras suara. Ini pertama kalinya aku mengalami yang judulnya telat masuk pesawat. Mendengar nama kita dipanggil melalui pengeras suara rasanya gimana ya. Hahaha. Panik luar biasa. Persis pukul  19.20 WIB pesawat Air Asia pun terbang menuju Jakarta. Kali ini aku tidak tidur sama sekali karna ngobrol terus dengan teman soal masa-masa pacaran dulu. Hahahha.

Pukul 22.15 pesawat mendarat dengan mulus dan here we are back, Jekardahh. Akhirnya, terima kasih buat Nivea  yang sudah memberikan hadiah jalan-jalan ini. Terima kasih buat TX Travel, khususnya Pak Anton yang baikkkk sekali, ramah, peduli, dan selalu menawarkan  diri untuk memoto kapan dan di mana saja. Juga untuk local guide (sorry, I forgot his name ) yang sama baiknya dengan Pak Anton.  Dan buat teman-teman sesama peserta, ayooo cari kontes berhadiah jalan-jalan lagi. Hahaha

Saatnya Pergi Ke Inggris Bersama Mister Potato

mrpotato2

The world is  a book and those  who do not travel read only one page – St. Augustine

Aku amat menyukai quote di atas dan sangat mengihibur ketika  menyadari bahwa aku  menyukai travelling dan telah berkali-kali melakukannya.

Sedikit flash back ke masa lalu sehubungan dengan kesukaanku soal jalan-jalan ini. Aku lahir dan menghabiskan masa kecil sampai masa remaja  di pinggiran Danau Toba. Di sana boleh dikatakan tidak ada tempat wisata kecuali sebuah pemandian air hangat bernama Aek Rangat.  Setiap hari minggu, pemandian air hangat ini berubah jadi pasar kaget saking banyaknya orang yang datang.  Tujuannya untuk berendam di kolam air belerang yang katanya bisa menyembuhkan segala kurap, kudis, cadas dan saudara-saudaranya :-D Tapi kenyataannya  teman-temanku justru sering  gatal-gatal setiap selesai berendam di sana. Setelah besar, aku baru sadar itu karna banyaknya kuman  yang ikutan berenang di dalam kolam. Kuman  yang berasal dari tubuh orang-orang yang berendam di kolam.

Aek Rangat inilah satu-satunya tempat wisata yang selalu aku kunjungi bersama teman-teman. Kami biasanya membawa bekal dalam rantang lalu berjalan berkilo-kilo meter ke tempat itu. Sampai di sana teman-teman mandi sementara aku cuma duduk memandangi orang-orang yang lalu lalang (aku hampir tidak pernah mau berendam di sana karna airnya terlalu panas di kulitku). Setelah selesai berendam dan ganti baju, kami makan bekal dalam rantang lalu pulang. Di tengah jalan kami memetiki buah Sanduduk (buahnya kecil berwarna ungu, manis dan bila dimakan maka lidah akan berwarna ungu). Lidah siapa yang paling ungu, dialah yang paling hebat karna berarti dia mendapat Sanduduk paling banyak. Jadi begitu saja yang kami lakukan tiap hari minggu. Pergi jalan kaki, berendam, makan, pulang jalan kaki, dan tiba di rumah dengan lidah berwarna ungu. Tapi entah kenapa kami tak bosan melakukannya.

mr potato 1

Saat aku duduk di kelas 6 SD, untuk pertama kalinya aku pergi ke tempat wisata bernama Danau Sidihoni. Danau ini disebut danau di atas danau karna berada di atas Danau Toba.  Aku ingat sekali bagaimana perasaanku saat pertama tiba di tepi danau itu. Hamparan rumput hijau mengelilingi danau, pohon-pohon tinggi berdaun lebat menimbulkan suara karna hembusan angin, burung-burung  berkicauan tiada henti, langit biru, semuanya membentuk  harmoni yang indah. Aku merasakan keindahan yang damai, kedamaian yang indah.  Di usia yang masih belia itu, imajinasiku mulai menggeliat. Aku membayangkan keluargaku tinggal di tepi danau itu dan ayah  membuatkanku rumah pohon persis di pinggir danau. Jadi setiap aku bangun pagi, aku akan terjun langsung ke danau, berenang dari ujung ke ujung. Jika sore hari, aku akan tiduran di hamparan rumput hijau sementara ibu memasakkan jagung rebus untukku. Indah sekali. Imajinasi itu terbawa terus sampai menjadi semacam hiburan untukku terutama jika aku sedih karna dimarahi ibu.

Kukira sejak itulah aku menyukai travelling.  Tiap ada hari libur, aku akan pergi ke rumah kerabat di bukit atau ke rumah neneknya teman di gunung. Di sana kutemukan  keheningan dan kebisuan dan aku menyukainya. Kukira dulu travelling itu identik dengan keheningan. Lalu saat SMP aku bersama anak tetangga pergi mencari kayu ke ladang yang jauh. Suatu ketika kami berpapasan dengan seekor ular besar yang membuat kami lari pontang panting ketakutan. Sehari dua hari aku kapok. Tapi di hari berikutnya, aku justru merasa itu adalah pengalaman seru. Dan kamipun pergi lagi, kali ini bukan hanya mencari kayu, tapi juga mencuri mangga orang di ladang. Saat SMA aku dan kawan-kawan pernah mendaki gunung dan tersesat. Puncak gunungnya tak ketemu, malah muter-muter sampai seorang teman kesurupan di kegelapan malam. Semua panik, takut, dan akupun pingsan hingga digotong teman sampai ke puncak. Pulangnya kami malah dikejar-kejar orang gila. Kapok dah, begitu testimoniku setiba di rumah. Eh minggu berikutnya aku sudah berada di puncak gunung yang sama, menikmati sunrise yang indah meski tetap juga aku pingsan di tengah jalan dan digotong sampai ke puncak. Hi hi hi. Saat itulah aku menyadari bahwa aku bukan hanya menyukai keheningan. Aku menyukai petualangan, menyukai segala hal yang tidak kutemukan di keseharianku. Dan itu hanya bisa kudapatkan melalui travelling.

Saat kuliah, aku gemar mengajak teman-teman pergi jalan-jalan tanpa biaya, setidaknya hanya butuh ongkos. Makanan kami bawa dari rumah, kalau perlu air putihpun dibawa dari rumah :-) Kalau kondisi keuangan sudah kritis sekali, aku selalu saja punya ide travelling, yakni jalan kaki menuju Istana Maimun (dulu aku kuliah di Medan) dan dengan kemampuan bahasa Inggris yang megap-megap, aku dan teman-teman berusaha menjadi guide bagi turis-turis di sana. Meski pada kenyataannya si bule justru makin kebingungan karna mengucapkan antara fifty dengan fifteen saja  kami masih sering bersalahan. Hahahah.

Jadi intinya aku memang gila travelling. Tapi bukankah travelling needs money? Dapat duit dari mana, Cyin? Nah, di sinilah, harus kuakui bahwa aku lumayan cerdas  (pasang emoticon cool). Aku senang travelling tapi tak punya uang. Jalan satu-satunya adalah aku harus bisa travelling gratis. How come? Bisa! Dengan mengikuti lomba berhadiah jalan-jalan. Itu sudah kulakukan sejak 3 tahun lalu dan buktinya dengan segala kreativitas dan ketekunan, impianku tercapai. Aku pernah jalan-jalan ke Paris,  Belanda,  Belgia,  Korea,  Singapura, Malaysia, dll, hasil dari memenangkan lomba. Semuanya gratis. Semuanya menyenangkan dan semuanya mengajariku bagaimana menilai sesuatu dari cara pandang yang berbeda.

Lalu kenapa aku harus pergi ke Inggris? Di status facebookku akhir tahun kemarin aku menuliskan beberapa resolusi, salah satunya adalah: harus bisa jalan-jalan gratis ke Inggris. Sejak Januari akupun mulai mencari info-info lomba yang hadiahnya jalan-jalan ke Inggris atau berhadiah uang tunai (kalau uang tunai bisa digunakan untuk ke London juga kan). Bulan Februari aku menemukan info lomba dari es krim terkenal berhadiah 4 orang ke London. Wuihh, semangatku pun mencapai tingkat monas waktu itu. Selama sebulan penuh aku fokus di lomba itu dan syukur terpilih menjadi 20 finalis yang disuruh datang menghadiri live judging. Malamnya aku benar-benar mempersiapkan diri dengan harapan aku termasuk salah satu dari 4 orang terpilih.Ternyata aku kalah, Saudara-saudara. Rasanya sakit. Sakitttt sekali (sambil pukul-pukul dada). Sedih, perih, seperti luka ditetesi air jeruk nipis (halahh). Soalnya sudah terbayang bakal ngapain saja di London, bakal bawa apa saja ke sana. Aku bahkan sudah terlanjur mencicil sepatu boot dari toko online teman. (sambil gigitin itu sepatu lho sayah sekarang)  Saat jurinya bilang bahwa 4 orang yang terpilih itu adalah mereka yang benar-benar representing produknya (es krim), saat itu juga aku menyadari aku tidak terpilih karna mungkin aku cuma representing bungkus es krimnya. (terlalu!). Itu sebabnya saat melihat kontes ini, yang notabene hadiahnya  jalan-jalan gratis ke Inggris, aku merasa kalimat yang berbunyi “kalau jodoh takkan kemana itu khusus diciptakan untukku.  INILAH JODOHKU!. Tidak menang kemarin, kali ini aku pasti menang (pretttt, kata jurinya )

Lalu mungkin ada yang bertanya kenapa resolusiku ingin ke Inggris. Kenapa bukan ke Amrik, misalnya. Harry Potter adalah jawabannya. Harus kuakui aku terobsesi ingin ke Inggris  gara-gara film Harry Potter ini. Bukan cuma filmnya saja yang mampu menghipnotisku, tapi pengarang bukunya juga, J.K Rowling sangat kuidolai. Kisah awal Rowling yang menulis novel di atas kertas tisu  amat menarik perhatianku. Ditambah lagi fakta-fakta yang mungkin remeh tapi menarik soal novel Harry Potter ini. Misalnya keputusan Rowling memasukkan  Natalie McDonald, seorang gadis berusia 9 tahun dari Toronto, Canada dan sedang menderita leukimia akut menjadi salah satu karakter yang muncul di halaman 159 novel Harry Potter and The Goblet of Fire.  Natalie adalah penggemar novel Harry Potter yang selalu menunggu edisi berikutnya. Tapi karna umurnya sudah tak lama lagi sementara dia penasaran sekali apa yang akan terjadi  pada Harry  Potter selanjutnya, dia mengirimi email pada Rowling untuk menanyakannya. Ketika Rowling menjawab email itu, Natalie telah meninggal dunia. Terharu atas perjuangan Natalie melawan penyakitnya, Rowling memasukkan nama Natalie sebagai murid baru di sekolah  Hogwarts.  Itu hanya sebagian kecil kisah2 menarik soal Harry Potter.

Yang jelas aku menggilai ke semua film Harry Potter dan  terobsesi ingin mengetahui lebih banyak dan lebih dekat soal Harry Potter ini. Aku pernah baca bahwa di Inggris ada tour Harry Potter dan inilah yang selalu kuimpikan. Dalam tour Harry Potter ini kita akan dibawa berkeliling ke lokasi-lokasi shooting film Harry Potter. Kita akan diajak ke Stasiun King’s, tempat pemberangkatan Hogwarts Express, kereta uap berwarna merah dalam film Harry Potter.Lalu berkeliling ke Oxford University yang disetting sebagai sekolah sihir Hogwarts. Juga  ke Glouchester Catedral, gereja megah yang diubah menjadi lorong panjang sekolah sihir Hogwarts, dan tempat-tempat lainnya.  Duhhh, membayangkannya saja aku udah merasa keren duluan :-D

Tapi (ada tapinya nih), di samping obsesi akan Harry Potter tadi, ada sedikit kisah yang mungkin agak lebay bagi yang baca, tapi jujur, justru membuatku sedih setiap mengingatnya, yang mendorongku agar cepat-cepat mengunjungi Inggris. Aku memiliki seorang sahabat yang mengidap penyakit AIDS dan akhirnya pindah ke London karna merasa tertekan dan merasa terkucilkan oleh keluarga. We knowlah bagaimana tipe masyarakat di Indonesia tercintah ini. Sejak pindah ke London, komunikasi kami berjalan via dunia maya. Aku tidak pernah menyinggung soal penyakitnya meski sejak tahu kondisinya aku jadi rajin googling sampai aku hafal betul istilah-istilah yang berkaitan dengan penyakit AIDS, seperti anti viral, anti retroviral, sel CD4, dsb. Terkadang aku mengatakan sudah kangen raut wajahnya dan dia sesekali memposting fotonya di beberapa tempat terkenal di London, seperti Big Ben,  London Eye,  Istana Buckingham, dll. Kalau aku komen, balasannya selalu sama: Kamu kan suka travelling. Harus datang ke sini, foto di sini, baru gue jempolin. Aku selalu jawab: Aminnnnn. Komunikasi kami terakhir berlangsung sekitar bulan November tahun lalu di inbox. Seperti biasa aku tidak pernah mau menyinggung penyakitnya. Tapi tersentak saat di akhir obrolan dia berkata “Vin, jika suatu saat akunku gak aktif lagi, itu artinya aku udah gak ada lagi di dunia ini. He he he. Kondisiku semakin menurun nih. Minggu lalu check up, CD4 ku tinggal 14. Tiap hari diare terus. Eh janji ya harus pernah ke sini.”

mr potato4

Tanggal 25 Desember, aku ingin mengucapkan selamat Natal padanya dan ternyata akunnya sudah tidak ada lagi. Tiba-tiba saja aku menangis dan merasa sedih luar biasa karna mendadak saja aku dikerubuti rasa kehilangan.  Malam itu juga kutuliskan resolusiku dan salah satunya harus  bisa pergi ke Inggris.  Aku ingin menuntaskan rasa penasaranku akan segala hal berbau Harry Potter dan ingin menepati janjiku pada sahabatku, bahwa suatu saat aku akan ke sana.

Lalu bila keinginan ke Inggris bisa terwujud, apa yang akan kulakukan di sana?  Yang pastinya aku akan mengunjungi ikon-ikon negara tersebut dan mencoba kuliner lokal. Dua hal ini yang selalu aku lakukan setiap pergi travelling. Di London, aku ingin sekali pergi ke istana Buckingham,  Big Ben, London Eye, dan satu lagu, London Bridge. Aku akan berfoto narsis di sana dengan produk Mister Potato dan akan kushare ke semua sosial media.  Adalah satu kebanggaan bagiku bila kelak  bisa pergi ke Inggris berkat Mister Potato. Lihat saja foto-foto yang kucantumkan di tulisan ini, kira-kira begitulah nanti pose dan ekspessiku saat berfoto-foto di London. Soal kuliner, aku ingin mencobai yang namanya Banger and Mash, Pie and Bir Peterseli, Lancashire Hotpot, Yorkshire Pudding, dll.  Aku pernah baca di majalah traveling, bahwa makanan-makanan yang aku sebut di atas merupakan makanan yang sering kita temukan di London.Soal shopping tidak menempati poin utama bagiku. Di samping memang tidak gemar shopping, juga karna tidak punya uang. Hahahaha.

mr potato3

Semoga keinginan jalan-jalan ke Inggris terwujud kali ini. Aku percaya bahwa traveling bukan hanya soal pengalaman baru, tempat baru dan teman baru, tapi lebih dari itu. Aku mengalami sendiri, setiap menjejak tanah di tempat yang baru, setiap itu pulalah kekagumanku pada Yang Kuasa semakin bertambah. Setiap aku menemukan kisah-kisah sedih yang menimpa orang-orang di tempat yang kukunjungi, setiap itu pulah aku mensyukuri kehidupanku yang baik-baik saja. Setiap aku menemukan perlakuan yang mengharukan, setiap itu pulalah aku bertekad akan berlaku lebih baik pada setiap orang.  Setiap aku menjalani travelling setiap itu pula aku meyakini apa yang dikatakan Henry Miler: “One’s destination is never a place, but a new way of seeing things”

Bermimpi

Kukira aku hanya perlu bermimpi

menghabiskan senja berdua saja denganmu

sampai akhirnya aku tertidur

dan ketika esok bangun kembali

mimpi itu masih melekat dalam ingatan

Ya, kukira aku hanya perlu bermimpi

memilikimu

mencintaimu

 

Kau

Sepi malam menggerogoti jiwa

dan angin menyumbang dingin lewat jendela

sunyi yang kelam

kelam yang sunyi

memasungku dalam hampa

lalu kuingat senyummu

kuingat wajahmu

kuingat suaramu

kuingat segalanya tentang dirimu

dan malam menjadi riuh

angin mendadak sepoi yang menyejukkan

segalanya menjadi hangat

di diriku

 

hujan

Hujan selalu menyimpan lagu

yang hanya didengar oleh orang-orang yang rindu hatinya

pada kekasih di masa lalu

pada kisah sederhana di taman bunga

pada jejak-jejak tanah basah


pada suara tetesan air di atap rumah

Tapi kini hujan tak pernah turun lagi

bukan karna sekarang musim kemarau

tapi karna rindu sudah membatu

menempel di karang laut

tak merasa sakit ditampar ombak setiap saat

Jangan Bermain-main dengan Cintaku

Cihuii, cerahnya pagi ini. Secerah hati Keiko. Secerah warna bajunya. Secerah lipstik mami. Secerah sambal buatan mbok Sumi. Secerah cerahnya minyak curah. Halahh:)

Keiko berputar-putar di depan cermin. Hhmm, sempurna, ucapnya dalam kepala. Diraihnya tas bergambar Sponge Bob, keluar kamar dan menuruni tangga sambil bersiul-siul. Mami dan papi yang menunggu di meja makan serentak menoleh ke atas dan serentak pula melongo dengan mulut sama-sama terbuka. Ihh, untung ini bukan di pasar. Bentuk mulut mereka yang sedang terbuka itu agak-agak mengundang gitu lho. Continue reading

Impian itu

Sepuluh tahun yang lalu

aku selalu bermimpi memiliki
rumah mungil
 dengan pekarangan yang luas
dan di belakang ada sebuah dangau kecil
mirip seperti dangau di tengah sawah

dan akan ada dua buah bantal di sana

untuk kita merebahkan kepala,

melewatkan senja,

ditemani dua gelas kopi
sembari mendengar White Lion berkata “Till Death Do Us Part” 
Akan kutulis “DILARANG MASUK” di dinding dangau itu

karna aku ingin

hanya kita berdua yang boleh memasukinya

melepas tawa

membongkar resah

berbagi rasa

Itulah mimpiku sepuluh tahun yang lalu

mimpi yang tetap kumimpikan setiap malam

mimpi yang kutitip pada Bunda Maria

lewat Novena yang begitu sakral

“Salam Maria Penuh Rahmat Tuhan Sertamu

Terpujilah engkau di antara wanita
dan terpujilah buah tubuhmu Yesus”

Tuhan memang begitu baik 
mimpiku dikabulkannya.

Kini ada sebuah dangau di belakang rumahku

persis seperti mimpiku dulu 
dengan dua buah bantal
 dan tulisan “DILARANG MASUK” 
Sayang kau tak pernah memasukinya
Dangau itu kini hanya tempatku menangis

dengan dua buah bantal

Satu tempat merebahkan kepala

Satu lagi menutupi wajahku

agar air mataku tak tumpah ketika mendengar Air Supply bertanya
“Where Did the Feelings Go?”